Tuesday, November 24, 2009

Cuci Gudang "Demi Tuhan"

obralobralobralobral...
obral besaaaaaarrr!!!
laiknya cuci gudang
tibatiba "Demi Tuhan" diobral di manamana
di mejameja peradilan
di corongcorong media
di gedunggedung
di pekantoran
di jalanan
di sembarang waktu
yang kita tahu sebagai medan tiputipu

obralobralobralobral...
obral besaaaaaarrr!!!
laiknya cuci gudang
tibatiba "Demi Tuhan" diobral di manamana
seperti laiknya barang dagangan
yang dipajang di etalase tontonan
dipoles bonus wajah memelas
mata berkacakaca
dan sedikit tetes air mata
agar disangka sumpah yang sesungguhnya

obralobralobralobral...
obral besaaaaaarrr!!!
laiknya cuci gudang
tibatiba "Demi Tuhan" diobral di manamana
didiskon nilai kesakralannya
dihilangkan kadar kesuciannya
agar gampang dilantunkan
ketika kesaksian dipertanyakan
dan kebenaran palsu diragukan

obralobralobralobral...
obral besaaaaaarrr!!!
laiknya cuci gudang
tibatiba "Demi Tuhan" diobral di manamana
ditawarkan secara paketan
dalam sandiwarasandiwara peradilan
yang tentu saja semakin melelahkan

obralobralobralobral...
obral besaaaaaarrr!!!
laiknya cuci gudang
tibatiba "Demi Tuhan" diobral di manamana
dijadikan tudung pelindung
kesalahan yang makin membusung
mendesak kebenaran jauhjauh ke ujung berung

obralobralobralobral...
obral besaaaaaarrr!!!
laiknya cuci gudang
tibatiba "Demi Tuhan" diobral di manamana
banyak orang beli untuk cuci diri
tak perduli lagi
azab yang menanti

Note:
Hadist tentang larangan SUMPAH PALSU :

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Dosa besar itu adalah syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh jiwa seseorang, dan sumpah palsu” [HR. Al-Bukhari]

Dari al-Mughirah bin Syu’bah Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Sesungguhnya Allah Ta’ala mengharamkan kalian untuk durhaka kepada ibu-ibu kalian, man’an wa haatin (menolak kewajiban dan menuntut yang bukan haknya), mengubur hidup-hidup anak perempuan. Dan Allah membenci kalian dalam hal menyebar kabar yang tidak benar, banyak meminta-minta, dan menyia-nyiakan harta.”[HR. Al-Bukhari dan Muslim

Wednesday, November 18, 2009

Suatu senja di perempatan lampu merah Jakarta

Gerimis rintik mencabik pucuk kulit ari. Bulu kuduk merinding menantang temaram senja. Kecipak roda melindas tandas genangan air di aspal. Memercik ritmis memancing umpatan sebal mereka yang terpercik air bercampur kotoran jalanan.

Seperti biasa, hari itu hujan kembali menyapa senja. Sinar lampu meredup. Kemilau biasnya lembut menembus serpihan embun yang terserak acak dihembus semilir angin malam.

Sementara itu di pojok jalan berlubang, bocah kecil berwajah lonjong, menatap kosong ke ujung lorong. Sepasang mata kecilnya memandang melompong kepada harapan yang selalu mengolok-olok ketidakberuntungan yang tergurat di tangan mungilnya.

Bocah kecil berwajah lonjong itu berdiri membungkuk menahan beban. Di dada kerempengnya tergolek molek, bayi bocah berumur bulanan. Mata mungilnya kemilau bening, pancarkan kepolosan. Tak pernah bertanya kenapa dia dilahirkan pada sang ibu yang duduk menunggu di pinggir trotoar. Santai.

Lampu memerah. Kericit derit rem kendaraan yang beradu dengan aspal, menyayat bising menancap henti. Semua kendaraan pun akhirnya diam di perempatan. Orang-orang menggigil beku menunggu waktu yang selalu buru-buru.

Kaki ceking bocah kecil berwajah lonjong melangkah gemetar. Menapak telanjang menahan beban di gendongan. Pelan-pelan ia tengadahkan satu telapak tangan. Sepasang matanya memelas. Memohon. Mengais iba yang tersisa pada orang-orang yang berhenti di perempatan. Berhenti di satu demi satu kendaraan, demi recehan yang mungkin tak enggan tuk disumbangkan.

Saat lampu kembali menghijau, bocah kecil itupun berlari ke tepian. Menghampiri sang ibu yang asyik termangu di sudut trotoar. Dengan bersemangat ia berikan uang receh yang didapatnya sebelum bergegas kembali ke jalanan. Menunggu lampu merah kembali menyapa senja yang menjadi semerah darah.

Note:
Jangan Umbar Iba di Jakarta,
Setiap Hari Rp.1,5 Milyar Receh Terbuang Sia-Sia
*) Tulisan ini pernah dimuat di majalah Info & Dinamika Kodya Jakarta Timur


Fragmen dalam prosa liris di atas, adalah pemandangan yang sangat gampang kita temui di banyak tempat di sudut-sudut Jakarta ini. Wajah-wajah polos dan lugu anak-anak jalanan yang seakan penuh beban dan derita membuat hati kita tersentuh oleh iba. Hingga tak segan, kita dengan ikhlas merogoh receh di kocek untuk dibagikan pada mereka. Namun adakah hal itu mampu mengentaskan mereka dari penderitaan yang ada? Nampaknya niat baik kita terkadang justru berakibat sebaliknya. Bukan menolong mereka, ternyata ketulusan kita tak jarang justru malah menjerumuskan mereka ke jurang penderitaan di masa-masa mendatang.

Terjebak Iba
Dulu banyak kalangan yang beranggapan bahwa krisis moneter adalah penyebab dari banyaknya anak jalanan di kota besar khususnya Jakarta ini. Namun walau perekonomian bangsa Indonesia telah berangsur pulih, kenyataan tersebut tidak mengurangi jumlah anak jalanan.

Selain minimnya peluang kerja ternyata salah satu alasan yang membuat fenomena maraknya anak jalanan tersebut terjadi yaitu “uang pemberian kita”. Hal itu terungkap oleh laporan pengalaman dari berbagai LSM yang melakukan pendampingan kepada anak jalanan.

Sadar maupun tidak, kita telah terjebak oleh “kasihan” serta “ketakutan akan tindak kejahatan di jalanan”. Rasa “kasihan” tersebut yang selalu menjadi senjata bagi anak jalanan untuk memperoleh uang. Maka tidak heran jika banyak anak jalanan dijadikan komoditas “kasihan” bagi orang tua mereka. Hal yang biasa kita temui yaitu adanya ibu-ibu ngamen atau mengemis dengan membawa anaknya, sedang yang lebih tragis lagi adalah anak-anak tersebut dikelola di jalanan oleh seorang koordinator, dibawah ancaman. Sebuah eksploitasi anak kerap terjadi dari sini.

Usut punya usut, ternyata anak jalanan mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi. Sebagai gambaran, dalam sehari anak jalanan dapat memperoleh kurang lebih Rp. 20.000,- sampai dengan Rp. 40.000,-. Uang tersebut diberikan kepada orang tuanya (jika masih memiliki), koordinator, atau untuk diri sendiri. Ada beberapa anak menggunakan uang tersebut selain untuk menyambung hidup, digunakan untuk biaya sekolah. Namun ironinya, justru sebagian besar mereka gunakan untuk berjudi, mabuk, ngelem, merokok bahkan untuk beli narkoba.

Dari sekian banyak penelitian yang dilakukan sejumlah LSM, uang yang diperoleh anak-anak marjinal ini, sebagian besar tidak mendukung peningkatan kesejahteraan mereka. Ternyata penelitian ini menemukan bahwa jajan, ada di peringkat pertama; main dingdong atau permainan elektronik lainnya, menjadi pilihan kedua; dan terakhir, setoran ke orang tua atau inang/senior sebagai pelindung mereka di jalanan. Jadi, bocah-bocah berpenampilan kumuh ini pun tetap miskin, tetap terancam putus sekolah, dan tetap berkeliaran di jalan.

Banyak pihak dan yayasan yang telah mencoba menolong mereka dengan memberikan sekolah gratis, makanan gratis dan rumah singgah bagi mereka. Namun mereka tetap kembali ke jalan.

Mengapa? Karena uang kasihan yang kita berikanlah biang keroknya. Karena setiap hari mereka memperoleh "uang gampang". Kalau misalkan saja paling sedikit Rp. 20.000,- sehari, itu berarti dalam sebulan mereka bisa memperoleh Rp. 600.000,- . Wow jumlah yang cukup besar kan? Tidak heran jika akhirnya mereka memilih untuk tetap di jalan.

Telah ada beberapa usaha untuk membantu mereka keluar dari kehidupan jalanan, namun usaha tersebut terkendala akan “easy money”. Beberapa anak jalanan dibina di rumah singgah dengan diberikan bimbingan pendidikan, ketrampilan dan pemberian kesempatan kerja. Ironisnya, mereka bertahan hanya beberapa bulan lalu kembali kejalan. Beberapa anak disekolahkan dan ditanggung biaya hidupnyapun kembali ke jalanan. Setelah ditanyakan alasan kembalinya mereka karena lebih mudah memperoleh uang di jalan dari pada bekerja atau kembali sekolah.

Secara singkat bahwa pemberian uang anda berdampak mengerikan bagi nasib si anak jalanan. Secara tidak langsung uang tersebut anda menginvestasikan kemalasan, kebodohan, tingkat kriminalitas, masa depan suram bagi anak-anak yang kita beri uang kasihan.

Bukan mustahil jika dibiarkan, 10-20 tahun lagi pun, mereka akan tetap berada dijalanan dan bisa jadi menjadi preman yang tinggal di jalan dan melahirkan anak-anak kurang mampu dan yang tidak berpendidikan. Tentu saja ini akan menjadi lingkaran setan di negara kita.

1.5 Milyar Perhari Terbuang Sia-sia

Sadarkah kita bahwa kita, penduduk Jakarta, setiap harinya membuang uang receh hingga mencapai 10 digit setiap harinya, ke jalanan. Hal ini bisa kita hitung secara gampang dan kasat mata.

Coba kita hitung. Jumlah anak jalanan di Jabodetabek saat ini berdasarkan data terakhir dari Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mencapai angka 75.000 orang. Pendapatan mereka seharinya bisa mencapai Rp 20.000 - Rp 40.000. Bila kita ambil angka terkecil saja, misalnya Rp 20.000,- maka jika dikalikan 75.000 anak, maka hasilnya berarti kita membuang uang receh (cepek, gopek, seceng) sebesar 1.500.000.000 alias 1,5 milyar per hari! Menakjubkan bukan?

Perhitungan matematis di atas menimbulkan satu pertanyaan ironik yang besar. Jangan-jangan bisa jadi kitalah yang membuat anak-anak itu betah berada di jalan. Dengan mengamen, mengemis, menyapukan kemoceng di atas dashboard mobil, atau menyodorkan amplop sumbangan, satu anak jalanan usia SD bisa memiliki penghasilan yang beda tipis dengan lulusan diploma. Benar-benar begitu mudah bagi mereka. Tanpa perlu capek-capek sekolah, susah-susah melamar kerja, toh hasilnya hampir sama.

Itu semua berujung karena kita terjebak pada kata "kasihan". “Kasihan” adalah alasan sebagian orang yang memberikan uang kepada para pengemis di jalan. Selain itu, mereka juga beranggapan bahwa menyantuni orang miskin adalah kewajiban setiap orang. Tapi apakah memberikan uang menyelesaikan masalah kemiskinan dan menghilangkan para pengemis di jalan? Jelas jawabannya adalah tidak.

Tanpa disadari dengan memberikan uang kepada para pengemis justru memunculkan berbagai masalah seperti: 1.) Mereka akan kembali lagi mengemis keesokan harinya karena mereka beranggapan bahwa mengemis itu mudah. Akibatnya, jumlah pengemis akan semakin bertambah. 2.) Mengancam keselamatan mereka sendiri, 3.) Mengganggu kelancaran lalu-lintas, 4.) Tidak pantas dipandang, 5.) Kota kita akan dikenal sebagai "kota pengemis", 6.) Mungkin kali ini yang berdiri di sana adalah pengemis, namun bias jadi kali lain mungkin perampok yang berpura-pura menjadi pengemis.

Gerakan “Mapan” di DKI Jakarta
Untuk mengatasi fenomena yang mengenaskan tersebut, Gubernur Propinsi DKI Jakarta Sutiyoso sejak awal April 2005 lampau telah mencanangkan gerakan resmi bertajuk GERAKAN MAPAN (Gerakan tidak membeli atau memberi apapun kepada siapapun di jalan). Berbekal gerakan ini, maka diharapkan fenomena anak jalanan yan semakin mengenaskan di atas bisa teratasi.

Tentu saja peran masyarakat sangat dibutuhkan di sini. Oleh sebab itu Kesos Kotamadya Jakarta Timur, M. Anshary Atjo, tak enggan-enggan untuk selalu meminta masyarakat Jakarta Timur untuk ikut aktif mensukseskan Gerakan Mapan tersebut. Tanpa dukungan masyarakat, gerakan yang dicanangkan oleh Gubernur Propinsi DKI Jakarta Sutiyoso sejak awal April 2005 tersebut tentunya tidak akan berhasil sama sekali.

Berkat peran aktif masyarakat inilah maka menurut Kasudin Bintal Kesos Kotamadya Jakarta Timur, M. Anshary Atjo, berdasarkan pemantauan dirinya di jalan-jalan dan persimpangan jalan di wilayah Jakarta Timur, jumlah Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) seperti, gelandangan dan pengemis (gepeng), pedagang asongan dan pengamen sudah mulai berkurang.

“Saat ini berdasarkan pemantauan di jalan-jalan jumlah PMKS sudah turun drastis. Hal itu merupakan bukti bahwa Gerakan Mapan yang dicanangkan Gubernur Sutiyoso cukup berhasil,” ujarnya bersyukur.

Peluang Membantu Anak Jalanan

Kalaupun kita memang peduli dengan anak-anak jalanan maka ada beberapa hal bisa kita lakukan untuk mereka. Yang terpenting adalah adanya sebuah kesadaran baru untuk tidak memberikan uang secara langsung kepada anak jalanan, tetapi melainkan memberikan kesempatan pada mereka.

Ada beberapa alternatif “KESEMPATAN” yang bisa kita berikan kepada anak jalanan tersebut yaitu:

Pendampingan.
Karena perlakuan keluarga maupun lingkungan menyebabkan anak jalanan terkadang merasa bahwa mereka adalah anak yang tersingkirkan dan tidak dikasihi, olehnya kita dapat memulihkan percaya diri mereka. “Uang” kita dapat dialihkan dengan waktu yang kita berikan untuk mendampingi mereka. Dengan sikap “Penerimaan kita” tersebut dapat mengatasi “luka masa lalu” mereka.

Bantuan Pendidikan.
Kita dapat membantu mereka dalam pendampingan bimbingan belajar, memberikan kesempatan mereka untuk sekolah lagi dengan Beasiswa, Bimbingan Uper (Ujian Persamaan) untuk anak yang telah melewati batas usia sekolah. “Uang” kita dapat kita konversi menjadi “Beasiswa” (memang pemerintah telah membebaskan uang SPP untuk sekolah negeri, Namun hal tersebut digantikan dengan pungutan lainnya bahkan lebih mahal dari pada uang SPP yang telah dihapuskan dengan mengatas namakan “uang buku”, “uang kegiatan” dan lain-lainnya.

Bantuan Kesehatan.
Dengan latar belakang pendidikan yang rendah serta lingkungan yang tidak sehat mengakibatkan mereka rentan dengan sakit penyakit. Pada kondisi sekarang mereka bukanlah tidak memiliki uang untuk berobat namun kesadaran akan mahalnya kesehatan sangat rendah dalam lingkungan mereka. Uang kita dapat kita rubah menjadi penyuluhan kesehatan, pemeriksaan kesehatan untuk awareness, subsidi obat-obatan serta subsidi perawatan kesehatan.

Penyediaan Lapangan Pekerjaan.
Sebagai contoh yang baik, saya melihat Carrefour misalnya telah melakukan terobosan yang sangat bagus dengan menerima 4 anak jalanan yang cukup umur untuk bekerja di perusahaannya. Langkah ini merupakan salah satu obat mujarab terhadap penyakit masyarakat yang menjangkit bahkan telah mulai membusuk dalam bangsa ini. Bayangkan jika terdapat “Carrefour-carrefour” yang lainnya, yang mau membuka kesempatan tersebut, mungkin jalanan akan sepi dengan anak anak jalanan karena orang tua mereka telah mulai bekerja. Profile keluarga dikembalikan seperti semula, orang tua menjadi penopang keluarga

Bantuan Pangan.
Dengan tingginya harga sembako membuat rakyat marginal tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dengan “Uang” dapat kita konversi dengan bantuan pangan dengan mengadakan Bazaar sembako murah, kembali kita tidak boleh memberikan kepada mereka secara gratis.

Dengan program/kampanye MAPAN seperti hanlnya yang dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta ini maka diharapkan akan muncul sebuah kesadaran baru untuk tidak memberikan uang secara langsung kepada anak jalanan tetapi memberikan kepada mereka “kesempatan”.

Kepedulian terhadap anak jalanan adalah baik adanya, namun jika dilakukan dengan kurang tepat terkadang bukan sedang menolong mereka namun sedang membunuh secara perlahan masa depan mereka. Dengan adanya upaya konversi terhadap “uang” yang diberikan, diharapkan dapat meningkatkan minat dari anak jalanan untuk keluar dari jalanan kembali kedalam kehidupan normal.

Dengan begitu kita menolong mereka dari resiko-resiko berbahaya serta memberikan kesempatan kepada mereka untuk menyambut uluran tangan yayasan dan melakukan hal-hal yang berguna untuk masa depannya kelak.

Lewat tindakan kita dan kesempatan yang kita berikan, kita secara tidak langsung sedang memulihkan hak-hak asasi anak menurut Konvensi hak anak PBB (diratifikasi Keppres RI No. 36/1990) :
- Hak untuk hidup
- Hak untuk tumbuh dan berkembang
- Hak untuk memperoleh perlindungan
- Hak untuk berpartisipasi

Dengan kita berhenti memberikan "uang gampang" berarti kita telah menjadi sukarelawan pasif dalam usaha pemulihan hak asasi anak. Di satu sisi kita kasihan melihat mereka namun jika kita memberi uang maka mereka akan tetap seperti itu dan tidak mau menyambut uluran tangan dari yayasan-yayasan yang berniat membantu mereka. Di sisi lain dengan tidak memberikan uang maka kita berharap masa depan mereka akan lebih baik dari sekarang ini.

Kalau kita memang memiliki uang sedikit berlebih dan benar-benar ingin berderma, kita bisa memberikan reward kepada semangat bekerja dan berusaha bagi mereka-mereka yang memang mau berkerja. Sebisa mungkin,meskipun akan ada selisih harga, belanjalah kebutuhan kita kepada usaha-usaha yang dikelola oleh mereka. Kalaupun lebih mahal, anggaplah selisih harga ini sebagai sedekah untuk mereka. Lebih ekstrim lagi, belanjalah kepada mereka meskipun anda tidak terlalu membutuhkan barangnya. Semisal memborong pisang sampai busuk, sapu lidi kuyu, tape uli sebakul sampai busuk, yang penting anak-anak jalanan itu sudah berusaha, tidak mengemis semata. Hal ini sekali lagi jauh jauh lebih baik daripada sekedar memberikan "uang gampang" kepada anak jalanan.

Dan yang jelas dengan kesadaran gerakan Mapan ini, kita tidak lagi membuang Rp.1.5 Milyar receh kita setiap hari secara sia-sia.

Wednesday, November 04, 2009

Dongeng Cicak dan Buaya* dari Negara Niscaya

pada zaman dahulu kala, sebuah kisah terjadi di negara niscaya. boleh dipercaya sebagai kisah nyata. boleh dibaca hanya sebagai wacana. namun ini adalah dongeng dari negeri niscaya. apapun komentar anda, niscaya.... cerita ini bisa benar adanya.

ceritanya bermula ketika sedikit nyamuk yang semula dianggap tak berbahaya, tibatiba telah beranak pinak bebas merdeka. nyamuk pun merajalela kemana mana. menghisap darah segala sendi yang ada.

nyaring dengingnya mengganggu tidur warga, juga mengusik keasyikkan sang raja.sementara buaya yang semula didaulat menjaga tidur warga dan sang raja, terlalu mengantuk untuk bekerja yang semestinya. mau tidak mau. suka tidak suka. terpaksa tidak terpaksa. negara mendaulat sang cicak untuk bekerja melawan nyamuk-nyamuk yang semakin berkecamuk.

sang cicak yang kebetulan belum mengantuk karena baru saja dipercaya negara, segera beraksi penuh sensasi. segera bergerak menyelidik apa yang tak nampak. banyak nyamuk segera diamuk. tak perduli perang kepentingan banyak pihak segera berkecamuk.

karena sang buaya yang hanya dikenal suka mengantuk, maka kerja sang cicak yang sebenarnya biasa-biasa saja segera dianggap luar biasa. sang cicak yang sebenarnya hanya menjalani sesuai yang dikehendaki segera dianggap berprestasi.

sang cicak dipuji-puji di sana-sini, sampai akhirnya muncul sebuah duri. saat sang cicak mencari-cari nyamuk di bank suntuluyi sang buaya yang juga tidur di sana merasa turut diusili. buaya pun berang bukan kepalang. koarnya meradang, terbakar tak terkendali. bangkit berjungkit, mencari upaya mengebiri cicak yang dianggap tak tahu diri. cicak dan buaya pun mulai berperang tanpa genderang.

sang buaya menerjang tanpa ada yang mengekang. sang cicak mengerang, menggalang dukungan mereka yang peduli dan berani. sang raja meragu, sabar menunggu siapa yang bakal jadi abu, agar bisa dijadikan rambu. para warga terpecah, mereka-reka siapa yang salah.

sementara itu para nyamuk justru sibuk berasyik masyuk, memestakan kemenangan yang tak perlu mereka perjuangkan dengan peluh dan kaki tangan mereka sendiri.

Note:
*) Penggunaan istilah Cicak dan Buaya berasal dari kalimat seorang perwira tinggi di Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia. Jenderal berbintang tiga itu berang setelah mengetahui telepon genggamnya disadap Komisi Pemberantasan Korupsi. “…cicak kok mau melawan buaya…” (Kabareskrim Mabes Polri Komjen Pol. Susno Duadji, Majalah TEMPO 6-12 Juli 2009)

Monday, November 02, 2009

Usai Lebaran

nampaknya...
habis sudah waktu kita
terus meniti pelan-pelan
rajutan sisa-sisa masa lalu
yang mengabarkan
indahnya kebersamaan

semuanya telah dimaafkan
merontokkan daundaun alpa
meninggalkan tunastunas baru
yang siap kembali trubus
untuk hijaukan hidup

sekarang kita samasama
kosong…
menyimpan putih sebagai bekal
coretan yang harusnya lebih bermakna

sekarang kita samasama
kembali kosong
jangan isi dengan iblisiblis baru
yang senang ingkari hati suci
sebagai tumbal gengsi

Note:
*)Lebaran adalah nama lain dari Hari Raya umat Islam, baik hari raya Idul Fitri maupun hari Raya Idul Adha yang selalu dirayakan setiap tahun.
Lebaran Idul Fitri atau biasa disebut "Lebaran" saja dilaksanakan ketika hari raya Idul Fitri tiba pada bulan Syawal setelah sebulan puasa Ramadhan, orang-orang Islam umumnya saling bersalam-salaman dan bermaaf-maafan dengan saudara, tetangganya, juga semua orang yang dikenal atau bertemu dengan mereka setelah menunaikan Shalat Ied.

Tuesday, October 27, 2009

Drakula* Ada Di Manamana

Drakula ha ha ha ha...
boleh jadi hanyalah dongeng belaka
pengantar tidur anak mama papa
agar tak kelayapan
di malam buta

Drakula ha ha ha ha...
boleh jadi kejam tak terkira
tapi anehnya banyak disuka
kisahnya tersebar
melanglang buana

Drakula ha ha ha ha...
siapa sangka siapa nyana
mati satu tumbuh berjuta
meretas batas-batas negara

Drakula ha ha ha ha...
menjadi simbol sifat manusia
tega menghisap darah sesama
tak perduli adanya dosa

Drakula ha ha ha ha...
terus lahir di segala suasana
pengusaha ataupun penguasa
sama-sama bisa menjelma
sebagai drakula yang nyata

Drakula ha ha ha ha...
kekal abadi selamanya
bersama nafsu angkara
menjarah sisi baik manusia

Lucunya Drakula ha ha ha ha...
dari cerita menjadi nyata
berbeda dengan neraka
yang justru dianggap cerita
yang berlalu begitu saja


Note:
*)Drakula adalah tokoh fiksi ciptaan Bram Stoker dalam novelnya Dracula yang diterbitkan pada tahun 1897. Tokoh Drakula diceritakan sebagai seorang vampir yang berasal dari kota Transylvania Rumania. Tokoh ini kemungkinan terinspirasi oleh Raja Vlad III yang memerintah Walakia pada abad ke-15 dengan tangan besi.

Adapun sejarah Asli Drakula sebenarnya bermula selama Perang Salib. Pada masa raja Vlad II berkuasa di Wallachia Wallachia menjadi rebutan antara kerajaan Hungaraia dan Turki Ottoman. Raja Vlad II yang memihak kerajaan Hungaria.mempunyai tiga orang anak yang bernama Mircea, Drakula, dan Randu. Karena dilengserkan oleh Sigismund (raja dari kerajaan Hungaria) dan kemudian digantikan oleh John Hunyandi, maka Vlad II berbalik memihak kepada kesultanan Turki Ottoman. Sebagai jaminan kesetiaannya kepada kesultanan Turki Ottoman, Vlad II mengirimkan anaknya Drakula dan Randu ke Turki.

Setelah perang Verna, terjadi konflik antara Vlad II dan John Hunyadi, yang berujung pada kematian Vlad II dan Mircea, kakak Drakula. Melihat perubahan politik di Wallachia tersebut, maka sultan Turki Ottoman (Mehmed II) mengirimkan Drakula pulang ke Wallachia untuk merebut tahta.

Drakula kembali ke Wallacia dengan dikawal 8000 prajurit Turki Ottoman. Sesampainya di Tirgoviste (ibukota Wallachia) terjadi pertempuran antara pasukan Vlasdisav dengan pasukan Drakula. Pasukan Drakula berhasil menang dan otomatis menjadikan Drakula sebagai penguasa Wallachia baru. Gilanya setelah berhasil menduduki tahta, Drakula membantai prajurit Turki Ottoman yang tersisa dengan cara disula, hal tersebut menjadi salah satu penyebab permusuhan antara Drakula dan Sultan Mehmed II.

Sebagai panglima salib di Wallachia, Drakula telah membantai kurang lebih 23.000 umat Islam baik tentara maupun rakyat, dengan peperangan maupun dengan metode sula (impaler), dalam ukiran kayu Jerman abad ke-15, ada bukti kekejaman Vlad III, penyulaan massal dengan korban berjumlah ribuan.

Setelah tindakan tersebut Drakula mengirimkan surat kepada raja Hungaria saat itu (Matthias Corvinus) untuk meminta dukungan dari kerajaan Hungaria untuk melawan Turki Ottoman.

Tindakan Drakula yang membantai 23.000 tentara Turki Ottoman, membuat sultan Mehmed II menyatakan perang kepada Drakula. Pada tanggal 17 Mei 1462M Sultan Mehmed II (sang penakluk konstatinopel) mengirimkan 60.000 tentara ditambah 30.000 tentara non reguler, sedangkan tentara Dracula mencapai 30.000 prajurit, melihat jumlah pasukan yang tidak berimbang, Drakula melakukan strategi perang gerilya.

Pada serangan tengah malam pasukan Drakula yang berkekuatan 10.000 orang berhasil mendesak pasukan Turki Ottoman, tetapi dapat dipukul mundur pada saat fajar tiba, atas kekalahan tersebut pasukan Drakula mundur ke benteng Poenari, Drakula melarikan diri dari kepungan pasukan Turki Ottoman yang dipimpin oleh Randu (adik kandung Drakula) ke Hungaria, dengan demikian, Randu dengan mudah merebut benteng Poenari dan merebut tahta Wallachia.

Pada Desember 1476 Terjadi pertempuran antara pasukan salib dengan dengan pasukan muslim (Turki Ottoman) yang terjadi di daerah Snagov, dalam pertempuran tersebut pasukan Drakula dapat dikalahkan, dan Drakula (Vlad III) tewas dalam pertempuran tersebut, kepalanya dipenggal dan dibawa ke Turki sebagai bukti kematiannya.

Friday, October 23, 2009

Berdamai dengan Takdir

o… takdir
engkaukah yang bicara
atau orang-orang
yang salah membaca cerita

konon Adam adalah manusia pertama
seorang laki-laki yang perkasa
yang sepotong tulang rusuknya
bisa diciptakan Hawa
seorang perempuan papa
sebagai pewarna kanvas hidupnya
itu sebabnya kaum Hawa
dibawah kaum Adam selamanya

o… takdir
engkaukah yang bicara
atau orang-orang
yang salah membaca cerita

konon karena rayu Hawa
adam berani memetik buah terlarang
dan iblis tertawa
dan noda tercipta
di punggung Hawa selamanya

bayi-bayi Hawa dianggap alpa
yang harus dikubur dari dunia
sebelum sempat kembali
ciptakan nista

o… takdir
engkaukah yang bicara
atau orang-orang
yang salah membaca cerita

konon karena hawa berpayudara
syetan-syetan berkarib dengannya
siap menjerat kaum adam
ke jurang terdalam
ketersesatan yang menghancurkan

o… takdir
tak bisakah engkau tulis ulang
bahwa semuanya adalah salah sangka
karena adam maupun hawa
adalah manusia yang sama
pewaris satu dunia maya
agar tak timpang
tapak kehidupan fana

o… takdir
tak bisakah kau kabarkan
tentang Kartini – Kartini yang kami punya
agar orang-orang terbuka mata
tentang perbedaan dan persamaan
yang seharusnya tidak dipermasalahkan

o…. takdir
bisakah kita berdamai
untuk sejenak
saja

karena yang membedakan perempuan dan laki-laki
adalah masalah hati
yang seharusnya bisa jernih di satu visi
perempuan ataupun laki-laki
sama-sama bisa berprestasi
menjalin perdamaian yang abadi

Wednesday, October 21, 2009

Sebuah Payung Kertas* Warna Merah


1.
sebuah payung kertas warna merah
dibuat ayah selagi kerja sedang istirah
asyik dimainkan anak bocah
ke sana ke mari tak kenal jengah

sebuah payung kertas warna merah
tidak menyerah di panas tengadah
tidak kabur di hujan mengguyur
meski luntur dan warnanya kabur

sebuah payung kertas warna merah
dibuat ayah dari kertas yang dilipatlipat searah
direkat dengan selengket lem sayang
agar bisa terus dikenang
meski akhirnya hilang terbuang

2.
payung kertas... payung kertas...
semula bayangbayangmu dianggap digdaya
penyelamat manusia dari tajamnya panas surya

tapi dunia tidaklah baka
saat kala semakin berada
dayamu seakan sia-sia
tergantikan payung yang lebih serbaguna

payung kertas... payung kertas...
kini engkau tidak lagi sakti mandraguna
tapi cantikmu tidaklah musnah
terjelma sebagai penghias citarasa
agar disuka sebagian manusia

payung kertas.. payung kertas...
teruslah bersolek molek
jangan pernah terobek
gelindingan waktu yang tergolek

Note:
*)Menurut Wikipedia, payung adalah suatu benda pegang yang digunakan untuk mencegah hujan mengguyur tubuh seseorang. Juga digunakan untuk menciptakan bayangan dan mencegah orang dari sinar matahari. Payung yang digunakan untuk menahan cahaya matahari disebut parasol.

Sedangkan dari pencarian pada berbagai sumber ditemukan bahwa payung alias umbrella berasal dari bahasa latin "umbra", yang berarti bayangan. Saat ditemukan pada 4 ribu tahun lalu, awalnya payung kuno didesain khusus hanya untuk melindungi sang pemakai dari teriknya siang hari. Sampai akhirnya bangsa China berhasil membuat payung yang berfungsi juga sebagai pelindung terhadap hujan. Mereka berhasil memanfaatkan lilin dan lak sebagai pelapis kertas agar payung itu waterproof alias anti air.

Akhirnya pada abad ke 16, keberadaan payung menjadi populer terutama di Barat, di negara-negara Eropa Utara yang memang kerap sekali turun hujan. Semula payung hanya dianggap sebagai aksesoris kaum wanita. Lalu seorang petualang dan penulis Persia, Jonas Hanway (1712-86), dengan percaya diri sering membawa payung di depan publik, sehingga menggoda keberadaan payung untuk dipakai juga oleh pria. Begitu populernya payung sampai-sampai para pria di Inggris menyebut payung itu sebagai "teman jalan."

Payung-payung generasi awal di Eropa dibuat dari kayu atau tulang ikan paus dan ditutup kain kanvas yang diberi minyak. Sebagai penarik diberi sentuhan seni dengan gambar warna warni dan gagang yang melengkung terbuat dari kayu keras, macam kayu ebony dll. Sampai akhirnya pada tahun 1852, Samuel Fox menemukan rangka besi guna menyangga kain payung. Sejak saat itu selanjutnya desain teknik payung lebih terfokus pada cara bagaimana menemukan teknologi menutup atau melipat payung itu agar lebih praktis saat di bawa.

Friday, October 16, 2009

Sepotong Es Krim*

sepotong es krim di tangan bocah
meleleh lumer pelan-pelan
sebagian menetes ke tanah
meninggalkan jejak nikmat
yang tersia-sia pasrah

dari langit matahari terik menukik
panasnya semakin membuncah kancah
menerobos lubang angkasa
yang semakin terbuka menganga
terkoyak padat polusi udara

slrrrrruuuppppzzzz...
sepotong es krim di hari panas
dinginkan kecewa yang terampas
kesempatan yang terbatas

sepotong es krim mencair lumer
bergelung dalam lidah meramu lega
hhhmmmmmmm.................
melukis manis, menepis gerah
beban hidup yang tak juga tergurah


Note:
*)Es krim adalah sebuah makanan beku dibuat dari produk dairy seperti krim (atau sejenisnya), digabungkan dengan perasa dan pemanis. Campuran ini didinginkan dengan mengaduk sambil mengurangi suhunya untuk mencegah pembentukan kristal es besar. Tradisionalnya, suhu dikurangi dengan menaruh campuran es krim ke sebuah wadah dimasukkan ke dalam campuran es pecah dan garam. Garam membuat air cair dapat berada di bawah titik beku air murni, membuat wadah tersebut mendapat sentuhan merata dengan air dan es tersebut.

Meskipun istilah es krim sering digunakan untuk menunjuk ke "dessert" beku dan makanan ringan, tapi sebenarnya digunakan unuk menunjuk ke "dessert" beku dan makanan ringan yang terdiri dari lemak susu. Banyak negara, termasuk Amerika Serikat, membatasi penggunaan istilah tersebut berdasarkan kuantitas dari bahan dasar makanan tersebut. (Wikipedia)

Thursday, October 01, 2009

Gelembung Balon Busa Sabun*

sebuah gelembung balon busa sabun
membumbung tinggi
sementara hari belum sepenuhnya terisi

bulatnya pinggirkan pukau galau
lenturnya pikat mimpi hati
beningnya perangkap kemilau keriap silau mentari
pantulnya memesta bersama gelitik terik
lenturnya menggoda mata turut berpesta

Duuuuhhhhh... gelembung balon busa sabun
terus menari-nari bersama angin
meliuk masyuk, melayang tualang
melukis perca-perca kenangan
sepanjang sempit waktu yang terluang

Duuuuhhhh... gelembung balon busa sabun
sebentar nian engkau mengembang
buru-buru memecah sebelum terwujud
sebagian besar tujuan hidup


Note:

*) Menurut fakta sejarah, sabun adalah salah satu penemuan penting yang dicapai umat Islam di era keemasannya. Tercatat sejak abad ke- 7 M, umat Muslim telah mengembangkan sebuah gaya hidup higienis yang mutakhir.

Ahmad Y Al-Hassan dalam bukunya "Technology Transfer in the Chemical Industries" menyatakan bahwa kota-kota Islam seperti Nablus (Palestina), Kufah (Irak), dan Basrah (Irak) telah menjadi sentra industri sabun pada waktu itu.

‘’Sabun yang kita kenal hari ini adalah warisan dari peradaban Islam,’’ papar Al-Hassan. Menurut Al-Hassan, sabun yang terbuat dari minyak sayuran, seperti minyak zaitun serta minyak aroma, pertama kali diproduksi para kimiawan Muslim di era kekhalifahan. Salah seorang sarjana Muslim yang telah mampu menciptakan formula sabun adalah Al-Razikimiawan legendaris dari Persia.

"Hingga kini, formula untuk membuat sabun tak pernah berubah," cetus Al-Hassan. Sabun yang dibuat umat Muslim di zaman kejayaan sudah menggunakan pewarna dan pewangi. Selain itu, ada sabun cair dan ada pula sabun batangan. Bahkan, pada masa itu sudah tercipta sabun khusus untuk mencukur kumis dan janggut.

Masyarakat Barat, khususnya Eropa, diperkirakan baru mengenal pembuatan sabun pada abad ke-16 M. Namun, Sherwood Taylor (1957) dalam bukunya berjudul, A History of Industrial Chemistry, menyatakan, peradaban Barat baru menguasai pembuatan sabun pada abad ke-18 M. Sejatinya, menurut RJ Forbes (1965) dalam bukunya bertajuk, Studies in Ancient Technology, campuran yang mengandung sabun telah digunakan di Mesopotamia.

"Mereka belum mengenal sabun, tapi beberapa deterjen telah digunakan," ungkap Forbes. Menurut dia, dunia klasik belum memiliki deterjen yang lebih baik. Penemuan sabun yang tergolong modern memang baru diciptakan pada masa kejaya
an Islam.

Monday, September 29, 2008

Sapu Jagad Tak Lewat



Sapu Jagad* Tak Lewat;
Di Stasiun Ini Kulihat Wajah Indonesia

Pagi


hari masih pagi…
derit roda kereta mencericit
sapa rerintik bening embun
mendesah lirih
bisikkan mimpi yang harus di kejar
sebelum menjauh tersaput lembut kabut

di stasiun ini kulihat wajah Indonesia
ya wajah Indonesia
benar-benar tanpa beda
pinang di belah dua

bermacam wajah manusia tiba
menjinjing kopor-kopor harapan
beban hidup yang harus dijalankan
susuri rel kereta kehidupan
tanpa bisa ditunda

loket tiket telah dibuka
tawarkan beragam pilihan kereta
tapi tujuannya tetaplah sama
satu tempat di ujung horizon
tempat dimana bahagia selalu berada

di stasiun ini kulihat wajah Indonesia
ya wajah Indonesia
siapa sangka
pinang di belah dua

orang-orang tak berpunya
sebagian lara papa
berdesak-desakan antri
demi tiket yang didamba

calo-calo berkeliaran bebas
mencuri kesempatan meraup laba
main mata
pada petugas yang juga loba

orang-orang kaya melenggang tenang
tertawa-tawa
uang mereka telah bicara
tiket telah mereka punya
nyaman menunggu di ruang istimewa


Siang


hari telah siang
peluit kereta membelah langit
berteriak kepada mimpi
yang tak juga turun menyapa bumi
yang terkapar dibakar terik matahari

di stasiun ini kulihat wajah Indonesia
ya wajah Indonesia
telanjang tanpa busana
pinang di belah dua

orang-orang tak berpunya
berlomba cepat mencari tempat
saling sikut asalkan bisa ikut
saling injak asalkan bisa beranjak

lelaki-lekaki beradu umpat
perempuan-perempuan beradu jerit
anak-anak beradu tangis

tak ada yang menggubris
di sini
hukum rimba
bicara

orang-orang kaya
lenggang kangkung saling bercanda
tak terbebani bekal berlimpah
cukup satu recehan pemberat saku
porter-porter siap membawa

peluit penjaga stasiun
melengking membelah langit
orang-orang papa semakin kalap
memaksa masuk walaupun gerbong tak lgi cukup
tak perduli terinjak derita, terdesak sengsara
berkarib duka lara merekatelah terbiasa

orang-orang kaya
bersilang kaki di kursi empuk
yang sama persis di tempat kerja mereka
dimana harta bisa didatangkan dengan segala cara
tanpa perduli apapun akibatnya
bagi sesama

di stasiun ini kulihat wajah Indonesia
ya wajah Indonesia
lengkap dengan kerut derita
dan ironi senyum licik di mulutnya
pinang di belah dua

lengking bel kereta
membelah angkasa
melaju terseok berat
limbung oleh sarat
harapan yang didamba
bermacam manusia
yang tak semua terbawa
terutama kaum papa

Malam


malam telah menjelang
ujung hari nyaris terlewati
kereta tak henti datang dan pergi
namun masih juga banyak orang yang menanti
kaum miskin yang cuma punya mimpi

mereka cuma bisa mendamba
kereta terakhir bernama sapujagad
meski terlambat
sekedar lewat tawarkan tempat
datang bersama gelap yang semakin menyayat

sampai tengah malam tepat
sapujagad tak juga lewat
orang-orang pun terlelap
bersama sedikit mimpi
yang masih bisa mereka dekap

siapa sangka
di stasiun ini kulihat wajah Indonesia
ya benar-benar wajah Indonesia
lengkap dengan raut wajah putus asa
setelah berpuluh tahun merdeka
sepertinya sia-sia
pinang di belah dua
(Jakarta, 2007)



Note:

*) KA Sapujagat, yaitu gerbong kereta barang atau parsel yang disulap berisi penumpang yang akan mudik menjelang Lebaran. Karena istilah Kereta Api Sapu Jagad yang digunakan selama ini, kesannya tidak manusiawi, maka PT KAI meluncurkan kereta baru yang disebut Kereta Komunitas.

Pada kereta Sapu Jagad yang beralih nama menjadi Kereta Komunitas, gerbong bagasi yang digunakan mengangkut penumpang dimodifikasi supaya penumpang nyaman berada di dalamnya. Ada empat pintu di gerbong bagasi ini. Gerbong juga dilengkapi dengan kamar mandi. Selain itu, lantai gerbong dilapisi karpet serta dilengkapi kipas angin supaya penumpang tidak kepanasan.

Hal ini berbeda dengan gerbong bagasi "Sapu Jagad" yang sebelumnya. Gerbong bagasi hanya terdiri dari dua pintu, lantai gerbong tidak memakai alas, tidak ada kamar mandi, dan tidak ada kipas angin.

malam telah mati




malam telah mati
*-teruntuk;Jakarta!

tanpa kibar bendera putih
istirah malam di kota ini
telah menyerah
pada benderang lampu-lampu penerang
yang tertata apik di pinggir jalanan
lupakan hari gelap
yang dihembus tenggelam surya

tanpa kibar bendera putih
pekat malam di kota ini
telah menyerah
pada kemilau sorot lampu-lampu hias
yang terserak di sudut-sudut taman
redupkan makna indah
kemilau kerling kerlip bintang

tanpa kibar bendera putih
dingin malam di kota ini
telah menyerah
pada lekuk tubuh perempuan malam
yang mendesah tebarkan wangi gairah
usir gemerutuk gigil
hembusan lembut angin malam

tanpa kibar bendera putih
sepi malam di kota ini
telah menyerah
pada gegap dentum musik-musik ruang
yang riang luapkan gairah
lirihkan gelitik bunyi
derik jengkerik yang alami

tanpa kibar bendera putih
tidur malam di kota ini
telah menyerah
pada deru mesin-mesin dan meja kerja
yang serakah ciptakan mimpi
nobatkan sang harta
di puncak arti tujuan diri

tak ada lagi malam di kota ini
namun tak ada seorang pun yang mencari

setelah pelan-pelan undur diri
akhirnya malam pun
mati

(benar-benar kusaksikan
dia terkapar,
menggelepar
lalu
diam)

mati penasaran?

Cawang-Jakarta; 29;01;2007;14.08

Tuesday, October 17, 2006

Merak Putih*




Merak Putih

relakan saja pelangi pergi
tinggalkan indah corak bulumu
melejit cepat kembali ke langit
rumah dimana hujan diciptakan

tanggalkan saja semua
warna-warna agung yang membangun
megahnya singgasana nama
mustika maya
yang membuat tegak kepala

cukuplah putih menjadi bekal
galah menyentuh indah harapan
di sela rimbun selimut misteri
yang bersih
kosong
gaib

biarlah menyatu semua warna
biarlah berpadu semua cahaya
terus membaur hancur
kental tak terpisahkan
pada satu warna akhir
putih
bersih
dimana cahaya dilahirkan
tanpa dosa
menyilaukan
mata

Note:

*)Merak putih adalah binatang imajiner. Namun tak ada yang tahu apakah foto tentangnya adalah rekayasa grafis ataukah manipulasi gambar. Yang jelas foto atau gambar merak putih ini diyakini oleh beberapa golongan mampu mendatangkan keberuntungan. terlepas dari benar tidaknya mitos tersebut, saya cukup melihat bahwa ternyata tanpa detil warna-warnanya yang begitu kaya, ternyata merak tetaplah bisa tampil dengan memukau. Maha besar Allah yang menciptakannya.

Hilal*






Hilal

selarit bulan sabit di ujung senja
menggelepak tak berdaya
di merah ufuk tengkuk batas istirah surya

tersangkut pasrah di tatap
tak terhitung mata
yang tak sabar menunggu
sebuah pertanda

datangnya
puasa dan hari raya



Note:

*)Hilal adalah penampakan bulan dengan mata telanjang yang paling awal terlihat menghadap bumi setelah bulan mengalami konjungsi.

Hilal merupakan kriteria hisab suatu awal bulan. Setiap awal bulan selalu ditandai dengan munculnya hilal.

Penentuan hilal bulan syawal adalah salah satu aktivitas penting yang dilakukan lembaga hisab untuk menentukan hari terakhir pada bulan Ramadhan. Hal ini akan menentukan kapan ummat muslim terakhir melakukan puasa dan merayakan Idul Fitri. Metode penentuan hilal yang biasa dilakukan ada dua macam yakni metode Rukyat dan Hisab.

Rukyah: metode pandangan mata & hisab: metode perhitungan matematik astronomi.

Tuesday, May 02, 2006

Jerit Buruh di Ujung Kaki Mei


hari masih pagi
namun mentari tak mau menunggu waktu
pamerkan terik tanpa peduli
cericit burung yang terlambat bangun lebih dini

di jalanan
bulir keringat menetes pelan
membasahi baju di tubuh-tubuh yang berdesakan
di bak truk terbuka yang tak berdaya
menantang panas surya

namun wajah-wajah polos tetap ceria
katanya itu sudah biasa
tetap sunggingkan senyum manis yang mereka punya
yang tak pernah surut
digerogoti tajam gigi derita

raungan mesin tak lagi bermakna
hambat mereka rayakan pesta
karena di pabrik mereka tlah terbiasa
berkarib derit mesin merajut asa
dianggap robot penggeruk laba

memang ini hari mereka punya
teriakan kebebasan yang tak pernah mereka rasakan
lepaskan suara yang sekian lama terselimuti
laju industri yang tak pernah mau mengerti
mereka berjuang untuk anak istri

hari ini di kalender angka kesatu
panas terik merambati ujung kaki Mei
yang telah beberapa kali menjadi saksi
bahwa sampai kini
kesejahteraan buruh sekali lagi
masih saja menjadi mimpi

Note:

Sejarah Hari Buruh

Ada dua orang yang dianggap telah menyumbangkan gagasan untuk menghormati para pekerja, Peter McGuire dan Matthew Maguire, seorang pekerja mesin dari Paterson, New Jersey. Pada tahun 1872, McGuire dan 100.000 pekerja melakukan aksi mogok untuk menuntut mengurangan jam kerja. McGuire lalu melanjutkan dengan berbicara dengan para pekerja and para pengangguran, melobi pemerintah kota untuk menyediakan pekerjaan dan uang lembur. McGuire menjadi terkenal dengan sebutan "pengganggu ketenangan masyarakat".

Pada tahun 1881, McGuire pindah ke St. Louis, Missouri dan memulai untuk mengorganisasi para tukang kayu. Akhirnya didirikanlah sebuah persatuan yang terdiri atas tukang kayu di Chicago, dengan McGuire sebagai Sekretaris Umum dari "United Brotherhood of Carpenters and Joiners of America". Ide untuk mengorganisasikan pekerja menurut bidang keahlian mereka kemudian merebak ke seluruh negara. McGuire dan para pekerja di kota-kota lain merencanakan hari libur untuk Para pekerja di setiap Senin Pertama Bulan September di antara Hari Kemerdekaan dan hari Pengucapan Syukur.

Pada tanggal 5 September 1882, parade Hari Buruh pertama diadakan di kota New York dengan peserta 20.000 orang yang membawa spanduk bertulisan 8 jam kerja, 8 jam istirahat, 8 jam rekreasi. Maguire dan McGuire memainkan peran penting dalam menyelenggarakan parade ini. Dalam tahun-tahun berikutnya, gagasan ini menyebar dan semua negara bagian merayakannya.

Pada 1887, Oregon menjadi negara bagian pertama yang menjadikannya hari libur umum. Pada 1894. Presider Grover Cleveland menandatangani sebuah undang-undang yang menjadikan minggu pertama bulan September hari libur umum resmi nasional.

Sementara 1 Mei dipilih karena pada 1884 Federation of Organized Trades and Labor Unions, yang terinspirasi oleh kesuksesan aksi buruh di Kanada 1872 [1], menuntut delapan jam kerja di Amerika Serikat dan diberlakukan mulai 1 Mei 1886.
[sunting]

Peristiwa Haymarket

Peristiwa Haymarket, Polisi menembaki para demonstran disusul dengan perlawanan dari kaum buruh.

Pada tanggal 1 Mei tahun 1886, sekitar 400.000 buruh di Amerika Serikat mengadakan demonstrasi besar-besaran untuk menuntut pengurangan jam kerja mereka menjadi 8 jam sehari. Aksi ini berlangsung selama 4 hari sejak tanggal 1 Mei.

Pada tanggal 4 Mei 1886. Para Demonstran melakukan pawai besar-besaran, Polisi Amerika kemudian menembaki para demonstran tersebut sehingga ratusan orang tewas dan para pemimpinnya ditangkap kemudian dihukum mati, para buruh yang meninggal dikenal sebagai martir. Sebelum peristiwa 1 Mei itu, di berbagai negara, juga terjadi pemogokan-pemogokan buruh untuk menuntut perlakukan yang lebih adil dari para pemilik modal.
[sunting]

Kongres Sosialis Dunia

Pada bulan Juli 1889, Kongres Sosialis Dunia yang diselenggarakan di Paris menetapkan peristiwa di AS tanggal 1 Mei itu sebagai hari buruh sedunia dan mengeluarkan resolusi berisi:

Sebuah aksi internasional besar harus diorganisir pada satu hari tertentu dimana semua negara dan kota-kota pada waktu yang bersamaan, pada satu hari yang disepakati bersama, semua buruh menuntut agar pemerintah secara legal mengurangi jam kerja menjadi 8 jam per hari, dan melaksanakan semua hasil Kongres Buruh Internasional Perancis.

Resolusi ini mendapat sambutan yang hangat dari berbagai negara dan sejak tahun 1890, tanggal 1 Mei, yang diistilahkan dengan May Day, diperingati oleh kaum buruh di berbagai negara, meskipun mendapat tekanan keras dari pemerintah mereka.
[sunting]

Hari buruh di Indonesia


Indonesia pada tahun 1920 juga mulai memperingati hari Buruh tanggal 1 Mei ini.

Tapi sejak masa pemerintahan Orde Baru hari Buruh tidak lagi diperingati di Indonesia, dan sejak itu, 1 Mei bukan lagi merupakan hari libur untuk memperingati peranan buruh dalam masyarakat dan ekonomi. Ini disebabkan karena gerakan buruh dihubungkan dengan gerakan dan paham komunis yang sejak kejadian G30S pada 1965 ditabukan di Indonesia.

Setelah era Orde Baru berakhir, walaupun bukan hari libur, setiap tanggal 1 Mei kembali marak dirayakan oleh buruh di Indonesia dengan demonstrasi di berbagai kota.

Tuesday, April 25, 2006

Manusiamanusia Gagap

suarasuara entah kenapa
tersekat mampat
di ujung jalan wicara
sedangkan makna
masih banyak tersimpan diam

bukan mulut terkatup letup
atau kerongkongan kosong melompong
semua ada di tempat
siap menerjang meregang
namun hanya satusatu meluncur kelu
patah-patah
lemah

sepertinya bahasa
tak mau selalu berkarib kalbu
sedangkan makna
tertumpuk membusuk di dasar hati
sia-sia

o.... sang Pencipta raga
apalah salah mereka
hingga kau tutup pintu bahasa
gagap untuk bicara
kebenaran yang kau amanatkan
sejak Adam dan Hawa

sedangkan mereka-mereka
yang lancar memainkan bahasa
adalah mereka yang buta
atas sabda yang kau titipkan
di gemericik titik-titik kehidupan
yang sebenarnya sangatlah fana


Note:
Nabi MUsa adalah Orang Gagap

Nabi Musa AS gagap berbicara. Tetapi Tuhan mengangkatnya menjadi seorang nabi sekaligus rasul untuk menyampaikan wahyu-Nya kepada umat.

Cerita kegagapan Nabi Musa tidak hanya bisa kita temukan di dalam Al Quran, tetapi juga didalam Kitab Injil dimana Nabi Musa secara eksplisit menyatakan dirinya gagap:"Oh Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mu pun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah”. (Keluaran 4:10)

Ketika Allah memerintahkan Nabi Musa untuk menegur Raja Fir’aun karena perbuatannya telah melampaui batas (QS 16:24), Nabi Musa menjawab:"Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku. Mudahkanlah urusanku. Lepaskanlah kekakuan lidahku (gagap). Supaya mereka memahamiku. Jadikanlah seorang dari keluargaku sebagai pembantuku (juru bicara). Dialah Harun saudaraku". (QS 16:25-30)

Begitulah Nabi Musa yang kuat secara fisik, ternyata tidak percaya diri menghadapi Raja Fir’aun yang memang sangat kejam. Nabi Musa bukannya takut menghadapi siksaan fisik dari Fir’aun, tetapi masalahnya apakah Fir’aun bisa memahami bicaranya yang gagap. Doa Nabi Musa dikabulkan dan dijadikanlah saudaranya, Nabi Harun AS, sebagai penerjemah Nabi Musa


Saat Embun Mencumbu Venus




fajar belum menjelang
sementara hari masih asyik berselimut gelap
bening butir embun menitikkan semburat gairah
cahya bintang yang terpeluk dalam transparan
di dalam tercermin wajah sumringah
pancaran kelip cahaya,
geliat manja venus saat nyaman
biarkan tubuh terpeluk segar embun

kereyot pintu sentakkan sepi
perempuan tua langkahkan kaki
nyalakan obor susuri kegelapan
hari milik mereka
telah dimulai

keriput pipi sunggingkan senyum dikulum
menghapus derita menjadi berharga
nikmati yang ada...
karna hidup tak pantas jadi kendala

berteman kelip cantik venus
dan dingin bening embun
perempuan tua penjaja sayur
telah memulai hidup
jauh sebelum dini hari
diteriakkan oleh sang fajar

embun pagi
venus
dan perempuan tua penjaja sayur
berkarib asyik, saat gelap telah lebih setengah jalan
menjelang hidup
yang bukan cuma mimpi!

Note:
Venus.... Orang-orang Babylonia menyebutnya "Ishtar". Bagi bangsa Maya, ia dikenal sebagai "Chak ek" yang artinya bintang besar. Beberapa astronom jaman dulu bahkan mengiranya sebagai dua objek yang berbeda: "bintang pagi" dan "bintang senja".

Venus, "bintang" yang dimaksud di atas, adalah objek paling terang di langit setelah Matahari dan Bulan. Tak heran bila planet kedua dari Matahari tersebut telah menarik perhatian manusia sejak berabad-abad lalu.

Venus, planet misterius yang ditutupi awan tebal.
Namun seiring dengan majunya penelitian astronomi, pamor Venus justru memudar. Ia kalah populer untuk diteliti dibanding Mars atau Jupiter misalnya. Ini mungkin disebabkan karena para ilmuwan yakin tidak akan menemukan apa-apa di sana, mengingat suhu permukaannya yang sepanas oven.